Senin, 09 Februari 2009

Konsep Dasar Pembelajaran Kreasi Seni Teater di SMP




(Keterangan Foto: 1)Pelatihan Seni Teater dimulai dengan pelatihan tingkat dasar olah tubuh, olah gerak, olah suara, olah rasa, dan olah pikir. Pelatihan dapat dilakukan di alam terbuka seperti pantai. 2) dan 3) Pementasan naskah "Bajang Caplok" karya Ustadji Pantja Wibiarsa oleh Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah)

Pada umumnya pembelajaran Seni Teater di SMP terdiri atas dua aspek yaitu aspek apresiasi dan kreasi. Namun demikian, karena keterbatasan SDM khususnya guru, lebih banyak aspek apresiasi yang disampaikan. Kondisi itu disebabkan oleh latar belakang pendidikan guru pengajar mata pelajaran Seni Budaya itu bukan Pendidikan Seni Teater. Padahal sebagai kategori pembelajaran keterampilan, Seni Teater mengutamakan aspek kreasi.
Berdasarkan kondisi tersebut, pada kesempatan ini perlulah dibahas konsep-konsep dasar pembelajaran kreasi Seni Teater, khususnya di SMP yang guru pengajar Seni Budayanya bukan berlatar Pendidikan Seni Teater. Konsep dasar ini dapat digunakan sebagai acuan awal atau minimal sebagai gambaran dasar untuk mengenalkan pembelajaran kreasi Seni Teater kepada peserta didik.
Konsep dasar yang dipaparkan di sini diambil berdasarkan pengalaman yang diberikan dan diperoleh dari kegiatan-kegiatan pelatihan Seni Teater, baik di kegiatan ekstrakurikuler sekolah, maupun di kegiatan kelompok teater tingkat umum.
Konsep dasar itu antara lain:
  1. Seni Teater mencakup keterampilan olah rasa, olah pikir, olah tubuh, dan olah suara yang pementasannya memadukan Seni Sastra, Seni Peran, Seni Gerak, Seni Rupa, Seni Tari, dan Seni Musik.
  2. Seni Sastra merupakan bahan baku untuk pementasan Seni Teater. Bentuknya berupa naskah, dari unsur terkecil yang merupakan komposisi bunyi-bunyi huruf vokal/konsonan, komposisi suku kata, komposisi kata, komposisi kalimat, sampai dengan komposisi dialog utuh yang membentuk karakter dan cerita.
  3. Seni Peran memberikan keterampilan kepada seseorang untuk memerankan karakter tokoh tertentu yang ditulis di dalam naskah drama. Keterampilan ini membutuhkan gabungan olah rasa, olah pikir, olah tubuh, dan olah suara.
  4. Seni Gerak pada umumnya merupakan keterampilan untuk memindahkan gerakan-gerakan yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari ke dalam pemeranan tokoh cerita. Secara khusus, juga dipelajari gerak-gerak teateral (gerak penggarapan) yang disesuaikan dengan kebutuhan pementasan drama.
  5. Seni Rupa dalam pementasan drama dibutuhkan untuk segi tata artistik panggung, dekorasi, properti, busana, dan rias.
  6. Seni Tari digunakan untuk penggarapan gerak menjadi gerak simbolis berirama dan artistik yang sangat mendukung nilai artistik pementasan drama.
  7. Seni Musik digunakan untuk mengiringi pementasan drama. Iringan ini tidak sekedar ilustrasi, tetapi sudah disesuaikan dengan penghayatan makna cerita dalam pementasan drama.
  8. Olah rasa ditekankan pada penghayatan peran dalam pementasan drama. Dalam tingkatan awal olah rasa merupakan pengekspresian perasaan tertentu yang merupakan reaksi dari situasi dan kondisi tertentu. Dalam tingkatan lanjut olah rasa merupakan gabungan pengekspresian berbagai perasaan, yang kadang-kadang perubahannya begitu cepat.
  9. Olah pikir merupakan keterampilan dalam memahami logika proses kehidupan yang ditampilkan dalam drama. Pada umumnya olah pikir ini beorientasi pada hukum kausal.
  10. Olah tubuh berfungsi sebagai pelatihan kelenturan gerak otot-otot dan sendi tubuh yang akan digunakan untuk mengekspresikan gerak tokoh tertentu dalam pementasan drama. Secara keaktoran, olah tubuh ini sangat membantu akting seseorang dalam memerankan tokoh tertentu.
  11. Proses pembelajaran kreasi Seni Teater untuk pemeranan pada umumnya dilakukan secara berjenjang dari pelatihan konsentrasi, pernapasan, suara, gerak, penghayatan, akting, dan bloking.
Demikianlah antara lain konsep dasar dalam pembelajaran kreasi Seni Teater yang di sekolah-sekolah sering menggunakan istilah Seni Drama sebagai pengganti Seni Teater. Bagi seseorang yang ingin bermain teater atau drama, konsep dasar itu tidak akan berarti apabila tidak dipraktikkan secara rutin dan terjadwal. Bagi guru Seni Budaya yang ingin memberikan pembelajaran kreasi itu kepada peserta didiknya perlu memahami teknik-teknik pelatihannya, agar peserta didik mudah menyerap dan memraktikkannya.
Semoga konsep dasar yang telah diuraikan di atas dapat dipahami dan selanjutnya dapat dipraktikkan di sekolah, khususnya di SMP.
(Penulis: Ustadji Pantja Wibiarsa, berdasarkan pengalaman sebagai instruktur pelatihan teater)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar