Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Teater. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2009

Kepelatihan Seni Teater

  1. Kompetensi Dasar: Melatih Kemampuan Berkonsentrasi
  2. Indikator Pencapaian: Mampu berkonsentrasi dengan menggunakan pancaindera dan perasaan.
  3. Materi Pokok: Konsentrasi indera penglihatan; Konsentrasi berbagai perasaan, misalnya: gembira, sedih, haru, kecewa, bangga, sayang, yakin, dan lain-lainnya.
  4. Contoh-contoh Instruksi:

Melatih Konsentrasi dengan Indera Penglihatan:

  1. Duduklah dengan tenang; kaki bersila; punggung telapak tangan diletakkan di atas lutut atau posisi tengadah; posisi tubuh tegak; rileks, tidak ada otot atau urat di tubuh yang kaku atau tegang, rileks saja; pandangan mata lurus ke depan; napas teratur; perasaan dan pikiran tidak ke mana-mana, cukup hanya konsentrasi ke kegiatan latihan ini; dan yang sangat penting kita berpasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang;
  2. Pelan-pelan pandangan mata beralih ke suatu benda atau suatu pemandangan yang Anda pilih yang terletak atau terhampar di hadapan Anda.
  3. Amatilah secara teliti benda yang Anda pilih itu, bentuknya, kondisinya, warnanya, bagian-bagiannya, dari atas ke bawah, kembali lagi dari bawah ke atas, dari kanan ke kiri, kembali lagi dari kiri ke kanan, dari sudut ke sudut.
  4. Jika Anda memilih mengamati hamparan suatu pemandangan yang luas, amatilah satu per satu benda-benda yang terdapat dalam lingkup pemandangan itu, bentuknya, kondisinya, warnanya, bagian-bagiannya, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan, dari sudut ke sudut.
  5. Amatilah terus secara teliti sambil dalam batin menyusun kata-kata atau kalimat  berdasarkan hasil pengamatan Anda. Namun kalimat Anda itu belum atau tidak menggambarkan kesan perasaan atau pikiran Anda. Jadi hanya berdasarkan pengamatan indera penglihatan. Misalnya:
    1. Aku menatap keluasan langit biru dengan hiasan awan seputih kapas.
    2. Kupandang dinding berwarna putih dengan beberapa noktah hitamnya.
    3. Saya mengamati pucuk pohon dengan daun-daunnya yang menari gemulai ditiup angin.
    4. Debu-debu  di hadapanku menghiasi lantai dan tanah yang menghampar.
    5. Sekuntum bunga disangga tangkainya membekas dalam tatapan mataku.
  6. Susunlah kalimat-kalimat sesuai dengan hasil pengamatan Anda.  Susunlah dengan menggunakan kata-kata yang indah. Satu kalimat. Dua kalimat. Tiga kalimat. Empat kalimat. Atau lima kalimat.
  7. Jika kalimat sudah tersusun, bersiaplah untuk mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan volume suara yang keras, pengucapannya jelas, dan intonasi yang bervariasi.
  8. Ucapkanlah bersama-sama. Ya. Ucapkan!
  9. Ucapkanlah sekali lagi. Ya. Ucapkan!

Penggabungan dengan Konsentrasi Perasaan:

  1. Setelah Anda mengucapkan kalimat-kalimat tadi, sekarang hubungkanlah kembali kalimat-kalimat Anda tadi dengan benda atau pemandangan yang Anda amati.
  2. Amati kembali benda atau pemandangan itu tanpa melupakan kalimat-kalimat yang telah Anda susun.
  3. Pelan tetapi pasti, benda atau pemandangan itu Anda rasakan melalui perasaan Anda. Pahamilah dan hayatilah benda atau pemandangan itu dengan menggunakan perasaan Anda.
  4. Kemudian tanggapilah dengan menggunakan perasaan Anda. Caranya, dalam batin susunlah kalimat-kalimat tambahan untuk kalimat-kalimat yang telah Anda ucapkan tadi. Kalimat tambahan tersebut sudah menggambarkan tanggapan perasaan Anda. Misalnya:
    1. Aku menatap keluasan langit biru dengan hiasan awan seputih kapas. Kurasakan keteduhan dan kesucian membentang di sana.
    2. Kupandang dinding berwarna putih dengan beberapa noktah hitamnya. Aku kecewa dan sedih karena sesuatu yang bersih dan baik telah dinodai oleh kekotoran dan ketidakbaikan.
    3. Saya mengamati pucuk pohon dengan daun-daunnya yang menari gemulai ditiup angin. Saya turut bahagia sambil membayangkan turut menari-nari gemulai diiringi alunan musik angin semilir.
    4. Debu-debu  di hadapanku menghiasi lantai dan tanah yang menghampar. Aku terharu, sesuatu yang mungkin merasa tidak berarti, tetapi sangat setia memberikan hiasan yang bermakna bagi tanah kelahiran.
    5. Sekuntum bunga disangga tangkainya membekas dalam tatapan mataku. Aku kagum dan bangga atas kesetiaan dan kebersamaan keduanya. Bunga dan tangkainya, dua hal yang saling mengisi, saling memberi dan menerima.
  5. Jika kalimat sudah tersusun, bersiaplah untuk mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan volume suara yang keras, pengucapannya jelas, dan intonasi yang bervariasi.
  6. Ucapkanlah secara bergiliran sesuai urutan yang ditunjuk.
  7. Ucapkanlah dengan menggunakan ekspresi wajah, ekspresi gerak tangan atau tubuh, dan dengan penghayatan perasaan yang sesuai.
  8. Ya. Anda. Ucapkan!
  9. Ucapkan sekali lagi. Ya. Ucapkan!

Keterangan:

  1. Pelaksanaan latihan konsentrasi indera penglihatan dan diteruskan pada konsentrasi perasaan dapat menggunakan ilustrasi iringan musik yang lembut.
  2. Jarak duduk peserta satu dengan yang lainnya diatur agar peserta tidak saling bersentuhan.
  3. Posisi duduk dapat berganti-ganti untuk menghindari rasa pegal atau kesemutan asalkan tidak mengganggu kesinambungan konsentrasi.
  4. Bila dalam proses latihan terdapat peserta yang tidak berkonsentrasi penuh (misalnya: mata lirak-lirik, bercakap-cakap dengan temannya, tersenyum geli), instruktur wajib memberi peringatan atau teguran.
  5. Contoh kalimat dapat diucapkan berulang-ulang oleh instruktur untuk memudahkan peserta memahami  konstruksi dan maknanya, dan selanjutnya agar peserta mudah menyusun kalimatnya sendiri.
  6. Bila peserta mengucapkan kalimatnya dengan volume suara kurang keras, instruktur wajib menginstruksikan agar peserta tersebut memperkeras suaranya.
  7. Bila peserta mengucapkan kalimatnya kurang berekspresi atau kurang menghayati, instruktur wajib menginstruksikan agar peserta meningkatkan ekspresi dan penghayatannya.
  8. Dalam proses latihan dari awal hingga akhir, instruktur wajib menciptakan suasana keseriusan dan penghayatan, sehingga kompetensi konsentrasi sepenuhnya dapat tercapai.
  9. Selamat berlatih menjadi pelatih (instruktur) dengan menggunakan berbagai variasi instruksi. Semoga sukses!

(Pengirim: Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah)



Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru
Lengkap dengan segala yang Anda sukai tentang Messenger!

Konsep Dasar Pembelajaran Kreasi Seni Teater di SMP




(Keterangan Foto: 1)Pelatihan Seni Teater dimulai dengan pelatihan tingkat dasar olah tubuh, olah gerak, olah suara, olah rasa, dan olah pikir. Pelatihan dapat dilakukan di alam terbuka seperti pantai. 2) dan 3) Pementasan naskah "Bajang Caplok" karya Ustadji Pantja Wibiarsa oleh Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah)

Pada umumnya pembelajaran Seni Teater di SMP terdiri atas dua aspek yaitu aspek apresiasi dan kreasi. Namun demikian, karena keterbatasan SDM khususnya guru, lebih banyak aspek apresiasi yang disampaikan. Kondisi itu disebabkan oleh latar belakang pendidikan guru pengajar mata pelajaran Seni Budaya itu bukan Pendidikan Seni Teater. Padahal sebagai kategori pembelajaran keterampilan, Seni Teater mengutamakan aspek kreasi.
Berdasarkan kondisi tersebut, pada kesempatan ini perlulah dibahas konsep-konsep dasar pembelajaran kreasi Seni Teater, khususnya di SMP yang guru pengajar Seni Budayanya bukan berlatar Pendidikan Seni Teater. Konsep dasar ini dapat digunakan sebagai acuan awal atau minimal sebagai gambaran dasar untuk mengenalkan pembelajaran kreasi Seni Teater kepada peserta didik.
Konsep dasar yang dipaparkan di sini diambil berdasarkan pengalaman yang diberikan dan diperoleh dari kegiatan-kegiatan pelatihan Seni Teater, baik di kegiatan ekstrakurikuler sekolah, maupun di kegiatan kelompok teater tingkat umum.
Konsep dasar itu antara lain:
  1. Seni Teater mencakup keterampilan olah rasa, olah pikir, olah tubuh, dan olah suara yang pementasannya memadukan Seni Sastra, Seni Peran, Seni Gerak, Seni Rupa, Seni Tari, dan Seni Musik.
  2. Seni Sastra merupakan bahan baku untuk pementasan Seni Teater. Bentuknya berupa naskah, dari unsur terkecil yang merupakan komposisi bunyi-bunyi huruf vokal/konsonan, komposisi suku kata, komposisi kata, komposisi kalimat, sampai dengan komposisi dialog utuh yang membentuk karakter dan cerita.
  3. Seni Peran memberikan keterampilan kepada seseorang untuk memerankan karakter tokoh tertentu yang ditulis di dalam naskah drama. Keterampilan ini membutuhkan gabungan olah rasa, olah pikir, olah tubuh, dan olah suara.
  4. Seni Gerak pada umumnya merupakan keterampilan untuk memindahkan gerakan-gerakan yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari ke dalam pemeranan tokoh cerita. Secara khusus, juga dipelajari gerak-gerak teateral (gerak penggarapan) yang disesuaikan dengan kebutuhan pementasan drama.
  5. Seni Rupa dalam pementasan drama dibutuhkan untuk segi tata artistik panggung, dekorasi, properti, busana, dan rias.
  6. Seni Tari digunakan untuk penggarapan gerak menjadi gerak simbolis berirama dan artistik yang sangat mendukung nilai artistik pementasan drama.
  7. Seni Musik digunakan untuk mengiringi pementasan drama. Iringan ini tidak sekedar ilustrasi, tetapi sudah disesuaikan dengan penghayatan makna cerita dalam pementasan drama.
  8. Olah rasa ditekankan pada penghayatan peran dalam pementasan drama. Dalam tingkatan awal olah rasa merupakan pengekspresian perasaan tertentu yang merupakan reaksi dari situasi dan kondisi tertentu. Dalam tingkatan lanjut olah rasa merupakan gabungan pengekspresian berbagai perasaan, yang kadang-kadang perubahannya begitu cepat.
  9. Olah pikir merupakan keterampilan dalam memahami logika proses kehidupan yang ditampilkan dalam drama. Pada umumnya olah pikir ini beorientasi pada hukum kausal.
  10. Olah tubuh berfungsi sebagai pelatihan kelenturan gerak otot-otot dan sendi tubuh yang akan digunakan untuk mengekspresikan gerak tokoh tertentu dalam pementasan drama. Secara keaktoran, olah tubuh ini sangat membantu akting seseorang dalam memerankan tokoh tertentu.
  11. Proses pembelajaran kreasi Seni Teater untuk pemeranan pada umumnya dilakukan secara berjenjang dari pelatihan konsentrasi, pernapasan, suara, gerak, penghayatan, akting, dan bloking.
Demikianlah antara lain konsep dasar dalam pembelajaran kreasi Seni Teater yang di sekolah-sekolah sering menggunakan istilah Seni Drama sebagai pengganti Seni Teater. Bagi seseorang yang ingin bermain teater atau drama, konsep dasar itu tidak akan berarti apabila tidak dipraktikkan secara rutin dan terjadwal. Bagi guru Seni Budaya yang ingin memberikan pembelajaran kreasi itu kepada peserta didiknya perlu memahami teknik-teknik pelatihannya, agar peserta didik mudah menyerap dan memraktikkannya.
Semoga konsep dasar yang telah diuraikan di atas dapat dipahami dan selanjutnya dapat dipraktikkan di sekolah, khususnya di SMP.
(Penulis: Ustadji Pantja Wibiarsa, berdasarkan pengalaman sebagai instruktur pelatihan teater)