Senin, 09 Februari 2009

Mutiara Cinta

  • Rembulan asmara meniris cahaya bagi kau dan aku yang setia menjaga cinta.
  • Cinta tulus itu berbahasa teduh samudra dan indah fajar berpelukan mesra.
  • Perahu cinta yang kita layarkan senantiasalah menuju cakrawala iman takwa.
  • Senandungtuluskanlah  puisi cinta diiringi biola ikhlas dan rebana setia.
  • Siter cinta suci meresapindahkan irama swarga asmaradana ke relung nurani.
  • Mahakarya cinta adalah seluas teduh angkasa raya memayungi bumi bersemi.
  • Kau dan aku meneteskan embun cinta dari lubuk nurani mengukir cita-cita.
  • Cinta suci itu merentangkan sayap-sayap kodrati terbang menapasi kehidupan.
  • Cinta sejati itu selalu mengharmonikan rasa kemanusiaan dan rasa keilahian.
  • Cinta nan surgawi setia mengkaligrafikan tukmaninah kasidah rahman rahim

Kepelatihan Seni Teater

  1. Kompetensi Dasar: Melatih Kemampuan Berkonsentrasi
  2. Indikator Pencapaian: Mampu berkonsentrasi dengan menggunakan pancaindera dan perasaan.
  3. Materi Pokok: Konsentrasi indera penglihatan; Konsentrasi berbagai perasaan, misalnya: gembira, sedih, haru, kecewa, bangga, sayang, yakin, dan lain-lainnya.
  4. Contoh-contoh Instruksi:

Melatih Konsentrasi dengan Indera Penglihatan:

  1. Duduklah dengan tenang; kaki bersila; punggung telapak tangan diletakkan di atas lutut atau posisi tengadah; posisi tubuh tegak; rileks, tidak ada otot atau urat di tubuh yang kaku atau tegang, rileks saja; pandangan mata lurus ke depan; napas teratur; perasaan dan pikiran tidak ke mana-mana, cukup hanya konsentrasi ke kegiatan latihan ini; dan yang sangat penting kita berpasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang;
  2. Pelan-pelan pandangan mata beralih ke suatu benda atau suatu pemandangan yang Anda pilih yang terletak atau terhampar di hadapan Anda.
  3. Amatilah secara teliti benda yang Anda pilih itu, bentuknya, kondisinya, warnanya, bagian-bagiannya, dari atas ke bawah, kembali lagi dari bawah ke atas, dari kanan ke kiri, kembali lagi dari kiri ke kanan, dari sudut ke sudut.
  4. Jika Anda memilih mengamati hamparan suatu pemandangan yang luas, amatilah satu per satu benda-benda yang terdapat dalam lingkup pemandangan itu, bentuknya, kondisinya, warnanya, bagian-bagiannya, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, dari kanan ke kiri, dari kiri ke kanan, dari sudut ke sudut.
  5. Amatilah terus secara teliti sambil dalam batin menyusun kata-kata atau kalimat  berdasarkan hasil pengamatan Anda. Namun kalimat Anda itu belum atau tidak menggambarkan kesan perasaan atau pikiran Anda. Jadi hanya berdasarkan pengamatan indera penglihatan. Misalnya:
    1. Aku menatap keluasan langit biru dengan hiasan awan seputih kapas.
    2. Kupandang dinding berwarna putih dengan beberapa noktah hitamnya.
    3. Saya mengamati pucuk pohon dengan daun-daunnya yang menari gemulai ditiup angin.
    4. Debu-debu  di hadapanku menghiasi lantai dan tanah yang menghampar.
    5. Sekuntum bunga disangga tangkainya membekas dalam tatapan mataku.
  6. Susunlah kalimat-kalimat sesuai dengan hasil pengamatan Anda.  Susunlah dengan menggunakan kata-kata yang indah. Satu kalimat. Dua kalimat. Tiga kalimat. Empat kalimat. Atau lima kalimat.
  7. Jika kalimat sudah tersusun, bersiaplah untuk mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan volume suara yang keras, pengucapannya jelas, dan intonasi yang bervariasi.
  8. Ucapkanlah bersama-sama. Ya. Ucapkan!
  9. Ucapkanlah sekali lagi. Ya. Ucapkan!

Penggabungan dengan Konsentrasi Perasaan:

  1. Setelah Anda mengucapkan kalimat-kalimat tadi, sekarang hubungkanlah kembali kalimat-kalimat Anda tadi dengan benda atau pemandangan yang Anda amati.
  2. Amati kembali benda atau pemandangan itu tanpa melupakan kalimat-kalimat yang telah Anda susun.
  3. Pelan tetapi pasti, benda atau pemandangan itu Anda rasakan melalui perasaan Anda. Pahamilah dan hayatilah benda atau pemandangan itu dengan menggunakan perasaan Anda.
  4. Kemudian tanggapilah dengan menggunakan perasaan Anda. Caranya, dalam batin susunlah kalimat-kalimat tambahan untuk kalimat-kalimat yang telah Anda ucapkan tadi. Kalimat tambahan tersebut sudah menggambarkan tanggapan perasaan Anda. Misalnya:
    1. Aku menatap keluasan langit biru dengan hiasan awan seputih kapas. Kurasakan keteduhan dan kesucian membentang di sana.
    2. Kupandang dinding berwarna putih dengan beberapa noktah hitamnya. Aku kecewa dan sedih karena sesuatu yang bersih dan baik telah dinodai oleh kekotoran dan ketidakbaikan.
    3. Saya mengamati pucuk pohon dengan daun-daunnya yang menari gemulai ditiup angin. Saya turut bahagia sambil membayangkan turut menari-nari gemulai diiringi alunan musik angin semilir.
    4. Debu-debu  di hadapanku menghiasi lantai dan tanah yang menghampar. Aku terharu, sesuatu yang mungkin merasa tidak berarti, tetapi sangat setia memberikan hiasan yang bermakna bagi tanah kelahiran.
    5. Sekuntum bunga disangga tangkainya membekas dalam tatapan mataku. Aku kagum dan bangga atas kesetiaan dan kebersamaan keduanya. Bunga dan tangkainya, dua hal yang saling mengisi, saling memberi dan menerima.
  5. Jika kalimat sudah tersusun, bersiaplah untuk mengucapkan kalimat-kalimat itu dengan volume suara yang keras, pengucapannya jelas, dan intonasi yang bervariasi.
  6. Ucapkanlah secara bergiliran sesuai urutan yang ditunjuk.
  7. Ucapkanlah dengan menggunakan ekspresi wajah, ekspresi gerak tangan atau tubuh, dan dengan penghayatan perasaan yang sesuai.
  8. Ya. Anda. Ucapkan!
  9. Ucapkan sekali lagi. Ya. Ucapkan!

Keterangan:

  1. Pelaksanaan latihan konsentrasi indera penglihatan dan diteruskan pada konsentrasi perasaan dapat menggunakan ilustrasi iringan musik yang lembut.
  2. Jarak duduk peserta satu dengan yang lainnya diatur agar peserta tidak saling bersentuhan.
  3. Posisi duduk dapat berganti-ganti untuk menghindari rasa pegal atau kesemutan asalkan tidak mengganggu kesinambungan konsentrasi.
  4. Bila dalam proses latihan terdapat peserta yang tidak berkonsentrasi penuh (misalnya: mata lirak-lirik, bercakap-cakap dengan temannya, tersenyum geli), instruktur wajib memberi peringatan atau teguran.
  5. Contoh kalimat dapat diucapkan berulang-ulang oleh instruktur untuk memudahkan peserta memahami  konstruksi dan maknanya, dan selanjutnya agar peserta mudah menyusun kalimatnya sendiri.
  6. Bila peserta mengucapkan kalimatnya dengan volume suara kurang keras, instruktur wajib menginstruksikan agar peserta tersebut memperkeras suaranya.
  7. Bila peserta mengucapkan kalimatnya kurang berekspresi atau kurang menghayati, instruktur wajib menginstruksikan agar peserta meningkatkan ekspresi dan penghayatannya.
  8. Dalam proses latihan dari awal hingga akhir, instruktur wajib menciptakan suasana keseriusan dan penghayatan, sehingga kompetensi konsentrasi sepenuhnya dapat tercapai.
  9. Selamat berlatih menjadi pelatih (instruktur) dengan menggunakan berbagai variasi instruksi. Semoga sukses!

(Pengirim: Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah)



Coba Yahoo! Messenger 9.0 baru
Lengkap dengan segala yang Anda sukai tentang Messenger!

Mutiara Sastra dan Teater

Sastra dan Teater adalah sepasang merpati terbang menebarkan kebenaran, keadilan, dan kedamaian. Sastra dan Teater memperluas cakrawala dan membuka dunia dengan kunci ilmu. Sastra dan Teater mewarnai kanvas kehidupan dengan indahnya kebersamaan dan cinta sesama manusia. Sastra dan Teater menjadikan hidup lebih bermakna bagi kemanusiaan. Sastra dan Teater membuka mata lahir dan mata batin terhadap ke-nyataan hidup dan kehidupan. Sastra dan Teater adalah keluasan ranah estetika, etika, dan humaniora yang tetap berpijak pada logika. Sastra dan teater menggenggam filosofi budaya untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Sastra dan teater adalah perjalanan melintasi lembah dan hutan-Mu, mengarungi samudra-Mu, menjelajah angkasa-Mu.

(Pengirim: Teater Asba SMP Negeri 23 Purworejo, Jawa Tengah)


Mencari semua teman di Yahoo! Messenger?
Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang!